Cari Blog Ini

Selasa, 23 Januari 2018

Khutbah Jumat, "Stop Kabar Berita Hoax"

STOP KABAR BERITA HOAX
Oleh : Mursana, M.Ag

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ؛ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْن

Hadhirin Jama’ah Shalat Jum’ah Rahimakumullah
Marilah bersyukur kepada Allah SWT pada hari jum’at ini kita masih tetap bisa memenuhi undangan Allah SWT untuk melaksanakan ibadah ritual mingguan yakni Shalat Jum’at. Mudah-mudahan setiap langkah untuk menuju masjid kebanggaan kita ini dicatat kebaikan oleh Allah SWT untuk bekal pada hari kiamat nanti. Amin.
Shalawat dan Salam semoga senantiasa Allah curahkan kepada junjungan alam semesta jagat raya yakni sayyidina wa maulana Muhammad SAW beserta keluargaNya, para sahabatNya, dan para pengikutNya termasuk kita semua sampai akhir zaman. Amin ya rabbal ‘alamin

Hadhirin Jama’ah Shalat Jum’ah Rahimakumullah
Hampir dua tahun belakangan ini, negeri kita dihebohkan dengan berbagai pemberitaan yang simpang siur dan mengandung unsur fitnah, dalam semua lini kehidupan. Akibat dari pemberitaan yang bernada provokatif ini, hampir saja membuat anak bangsa ini terkotak-kotak dan terpecah belah. Ada kelompok yang merasa paling membela Islam dan ada kelompok yang merasa paling membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Melalui media sosial baik online maupun offline dan bahkan melalui media pengajian dan tabligh akbar, keduanya membuat kabar berita yang saling memojokkan, saling hina, dan saling mencaci maki. Sehingga belakangan ini, berita-berita fitnah dan provokatif seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari. Apabila kondisi buruk tersebut dibiarkan, maka dikhawatirkan akan terjadi perang saudara yang berakibat hancurnya sendi-sendi kehidupan di NKRI.

Hadhirin Jama’ah Shalat Jum’ah Rahimakumullah
Terus bagaimana dengan sikap kita sebagai pribadi Muslim di tengah informasi hoaks yang merajalela. Di antara yang dapat kita lakukan adalah dengan tidak menjadi orang yang memproduksi dan membuat informasi hoax itu sendiri. Hendaknya kita menjauhkan diri dari membuat kabar berita yang mengandung unsur kebohongan, fitnah, ujaran kebencian dan adu domba.
Selain tidak menjadi produsen, kita juga hendaknya tidak menjadi distributor dari berbagai kabar berita hoax. Boleh jadi kita tidak membuat kebohongan, boleh jadi kita tidak memproduksi kebohongan, tapi bukan berarti kita sah dan boleh menyebarkanluaskan kebohongan. Boleh jadi kita hanya menerima kiriman kabar berita hoax, tapi tidak berarti kita boleh membagikan kembali informasi hoax yang kita terima untuk kita sebarkan kembali. Selama kita masih menjadi produsen, selama kita masih menjadi distributor informasi hoax, maka sampai kapanpun kehidupan kita akan terus dikepung oleh kabar berita hoax
Menurut pandangan Islam yang kita anut, berbohong atau membuat kebohongan adalah sikap dan perilaku yang tidak dapat menyatu dalam diri seorang pribadi Muslim yang beriman. Dalam Surat an-Nahl ayat 105 Allah telah memberikan peringatan dengan sangat jelas.
إنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
“Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan atau membuat kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS an-Nahl: 105)
Maka dari itu, sesungguhnya iman dan kebohongan ibarat air dan minyak yang tidak akan pernah menyatu dalam pribadi seorang Muslim. Orang yang membuat kebohongan tidak dapat disebut sebagai seorang yang beriman. Dan sebaliknya orang yang beriman bukanlah orang yang suka membuat kebohongan. 
Dalam hadits riwayat Imam Malik diceritakan, pada suatu hari Baginda Nabi pernah ditanya:
أَيَكُونُ الْمُؤْمِنُ جَبَانًا؟ 
“Apakah ada orang yang beriman tapi dia seorang pengecut dan penakut?”
Jawab Nabi Muhammad SAW., “Ya ada”
أَفَيَكُونُ بَخِيلًا؟  
“Apakah ada orang yang beriman tapi dia seorang yang pelit bakhil?”
Jawab Nabi Muhammad SAW., “Ya ada”
أَفَيَكُونُ كَذَّابًا؟
“Apakah ada orang yang beriman tapi dia suka membuat kebohongan?”
Jawab Nabi Muhammad SAW., “Tidak ada.” 
Seorang mukmin boleh jadi dia adalah seorang yang pengecut dan penakut, seorang mukmin boleh jadi dia adalah seorang yang pelit dan bakhil, tapi tidak ada kamusnya seseorang disebut mukmin tapi dia seorang pembohong dan pembuat kebohongan.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyâ ‘Ulûmiddîn mengatakan bahwa pada hakikatnya kebohongan tidak diperbolehkan bukan karena kebohongan itu sendiri (lâ bi ‘ainihi). Akan tetapi kebohongan dilarang dalam agama karena kebobongan itu menimbulkan banyak dampak negatif. 
Sama dengan hal tersebut, dalam kitab Adabud Dunyâ Waddîn, Imam Al-Mawardi menjelaskan:
الْكَذِبُ جِمَاعُ كُلِّ شَرٍّ، وَأَصْلُ كُلِّ ذَمٍّ لِسُوءِ عَوَاقِبِهِ، وَخُبْثِ نَتَائِجِهِ؛ 
“Kebohongan adalah sumber dan akar dari segala kejahatan dan kejelekan karena dampak buruk dan keji yang ditimbulkannya.”
لِأَنَّهُ يُنْتِجُ النَّمِيمَةَ، وَالنَّمِيمَةُ تُنْتِجُ الْبَغْضَاءَ، وَالْبَغْضَاءُ تُؤَوَّلُ إلَى الْعَدَاوَةِ، وَلَيْسَ مَعَ الْعَدَاوَةِ أَمْنٌ وَلَا رَاحَةٌ 
“Karena sesungguhnya kebohongan dapat menimbulkan fitnah, dan fitnah membawa pada kemarahan. Lalu kemarahan akan menjadi awal dari permusuhan. Dan tidak ada yang namanya rasa aman dan ketentraman dalam sebuah permusuhan.”

Hadhirin Jama’ah Shalat Jum’ah Rahimakumullah
Demikian khutbah ini, semoga kita terhindar dari bahaya kabar berita hoax dan akhirnya khatib tutup dengan ungkapan Ibnu Muqoffa seorang pujangga yang hidup pada zaman Dinasti Abbasiyah yang termaktub dalam kitab Adabud Dunyâ Waddîn:
لَا تَتَهَاوَنْ بِإِرْسَالِ الْكِذْبَةِ مِنْ الْهَزْلِ فَإِنَّهَا تُسْرِعُ إلَى إبْطَالِ الْحَقِّ
“Janganlah seseorang menganggap remeh mengirim berita bohong meski sekadar guyon dan lucu-lucuan. Karena sesungguhnya kebohongan itu dapat dengan cepat menenggelamkan kabar berita yang berisi kebenaran.”

Hadhirin Jama’ah Shalat Jum’ah Rahimakumullah
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ

Khutbah kedua diserahkan kepada Khatib masing-masing

Tidak ada komentar:

Posting Komentar